Sabtu, 25 Oktober 2014

ISTIGHFAR
Oleh : Ateng Usep Tirta Kusuma

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ (١٣٥)
“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah?. Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui”. (QS. Ali Imran [3]: 135).

Dalam dinamika kehidupannya manusia tidak akan pernah luput dari kesalahan dan dosa. Ini adalah fitrah manusia yang memang telah disinyalir oleh Rasulullah Saw dalam sebuah haditsnya:
كُلُّ بَنِيْ آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ اَلتَّوَّابُوْنَ (رواه الترمذي)

“Setiap manusia (berpotensi) melakukan kesalahan dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang mau bertaubat”. (HR. Tirmidzi).[1]

Banyak orang yang ketika memaknai istighfar hanya sebatas ucapan mohon ampun kepada Allah dengan mengucapkan astaghfirullahal ‘azim. Pemahaman seperti ini tidaklah keliru, namun jika hanya diartikan sebagai ungkapan lisan, maka makna istighfar menjadi sempit.

Walhasil, istighfar (permohonan ampun) kepada Allah tidak hanya dapat dilakukan dengan lisan. Banyak sekali amal perbuatan yang dapat mendatangkan ampunan Allah. Dengan demikian, istighfar itu dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu istighfar dengan lisan dan yang kedua adalah istighfar dengan perbuatan. Bahkan apabila seseorang baru hanya menyesali perbuatan dosa yang telah dilakukannya dalam hatinya, itu pun termasuk dalam kategori istighfar.

A.  Istighfar Dengan Lisan

Dalam sebuah hadits dikatakan bahwa Rasulullah Saw mengucapkan istighfar_walhasil beliau adalah maksum (terbebas dari dosa) dan telah mendapat jaminan surga_ setiap hari sebanyak seratus kali.
يَا اَيُّهَا النَّاسُ تُوْبُوْا اِلَى اللهِ وَاسْتَغْفِرُوْهُ، فَاِنِّيْ اَتُوْبُ فِى اْليَوْمِ مِئَةَ مَرَّةٍ (رواه مسلم)
“Wahai manusia, bertaubatlah dan mohonlah ampun kepada Allah, maka sesungguhnya aku setiap hari memohon ampun kepada Allah sebanyak seratus kali”. (HR. Muslim).[2]

Ada satu ucapan istighfar yang dinamakan dengan sayyidul istighfar (rajanya istighfar) yang diajarkan oleh baginda Rasulullah Saw sebagai berikut :

اَللَّهُمَّ اَنْتَ رَبِّيْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اَنْتَ خَلَقْتَنِيْ وَاَنَا عَبْدُكَ، وَاَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَاسْتَطَعْتُ، اَعُوْذُبِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، اَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَاَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْلِيْ، فَاِنَّهُ لاَيَغْفِرُ الذُّنُوْبَ اِلاَّ اَنْتَ. (رواه البخاري) 

“Ya Allah, Engkaulah Tuhanku, tiada Tuhan melainkan Engkau dan aku ini hamba Mu, dalam jaminan dan janji kepada Mu yang akan aku penuhi sekemampuanku, aku berlindung kepada Mu dari kejahatan yang aku perbuat, aku mengakui segala anugerah yang Engkau berikan kepadaku dan aku (juga) mengakui seluruh dosa yang aku perbuat, maka ampunilah aku, karena sesungguhya tiada yang dapat mengampuni dosa kecuali Engkau”. (HR. Bukhari).[3]
 
Rasulullah memberikan jaminan bahwa barangsiapa yang membacanya di siang hari dengan penuh keyakinan lalu dia meninggal sebelum sore hari, maka ia termasuk ahli surga, dan barangsiapa yang membacanya di waktu malam dengan penuh keyakinan lalu ia meninggal sebelum pagi hari, maka ia termasuk ahli surga. 

B.  Istighfar Dengan Perbuatan

Selain dengan ucapan lisan tersebut, tidak sedikit juga amal perbuatan_yang dipandang remeh_ternyata termasuk dalam kategori istighfar yang dengannya menjadi sebab pengampunan dosa. Sekecil apapun kebaikan yang dapat kita lakukan hendaknya jangan dipandang remeh, karena boleh jadi nilainya besar di hadapan Allah, sebaliknya, betapapun kecilnya dosa yang kita lakukan jangan dipandang remeh, karena boleh jadi besar di hadapan Allah.
لاَ تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوْفِ شَيْئًا وَلَوْ اَنْ تَلْقَى اَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلِيْقٍ (رواه مسلم)

“Janganlah engkau meremehkan satu kebaikan sekalipun hanya menemui saudaramu dengan wajah yang berseri”. (HR. Muslim).[4]
 
Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa memandang wajah saudara atau sanak famili dengan pandangan kasih sayang dan wajah yang berseri merupakan sebab diampuninya dosa.
مَنْ نَظَرَ اِلَى اَخِيْهِ نَظْرَةَ وُدٍّ غُفِرَ لَهُ (رواه الحكيم)

“Barangsiapa yang memandang saudaranya dengan pandangan kasih sayang, niscaya akan diampuni dosanya”. (HR. Hakim).[5]
 
Dalam sebuah riwayat juga dikisahkan tentang seseorang yang memberikan minum kepada seekor anjing yang kehausan di tengah padang pasir. Rasulullah Saw bersabda:

بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِيْ بِطَرِيْقٍ اِشْتَدَّ عَلَيْهِ اْلعَطَشُ فَوَجَدَ بِئْرًا فَنَزَلَ فِيْهَا فَشَرِبَ ثُمَّ خَرَجَ. فَاِذَا كَلْبٌ يَلْهَثُ يَأْ كُلُ الثَّرَى مِنَ اْلعَطَشِ. فَقَالَ الرَّجُلُ: لَقَدْ بَلَغَ هَذَاالْكَلْبَ مِنَ اْلعَطَشِ مِثْلُ الَّذِيْ قَدْ بَلَغَ مِنِّيْ. فَنَزَلَ الْبِئْرَ فَمَلأَ خُفَّهُ مَاءً ثُمَّ اَمْسَكَهُ بِفِيْهِ حَتَّى رَقِيَ، فَسَقَى الْكَلْبَ، فَشَكَرَ اللهُ لَهُ فَغَفَرَلَهُ. قَالُوْا: يَارَسُوْلَ اللهِ، وَاِنَّ لَنَا فِى اْلبَهَائِمِ لاَجْرًا ؟ فَقَالَ: فِيْ كُلِّ كَبِدٍ رَطْبَةٍ اَجْرًا (متفق عليه).

“Ada seorang laki-laki yang sedang melakukan perjalanan kemudian ia sangat kehausan, lalu ia mendapati sebuah sumur kemudian ia turun ke dalamnya dan minum air sumur tersebut kamudian ia keluar. Ketika itu ada seekor anjing yang menjilat-jilat kerikil karena sangat hausnya. Lelaki itu berkata: “Sungguh anjing itu mengalami kehausan seperti yang telah kualami tadi”. Lalu ia turun kembali ke sumur itu dan memenuhi sepatunya dengan air kemudian menggigitnya hingga ia naik ke atas dan memberikan anjing itu minum. Maka Allah berterima kasih kepadanya dan mengampuninya. Sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah memberikan bintang itu ada pahalanya bagi kami?”. Rasulullah Saw bersabda: “Pada setiap yang memiliki jantung yang basah itu ada pahalanya”. (Muttafaq ‘alaih).[6]

Keutamaan Istighfar

Ada banyak hadits yang menjelaskan tentang kelebihan dan keutamaan istighfar, antara lain:

1.    Mendatangkan kemudahan dan rizki dari tempat yang tidak terduga.

مَنْ اَكْثَرَ مِنَ اْلاِسْتِغْفَارِ جَعَلَ اللهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَمِنْ كُلِّ ضِيْقٍ مَخْرَجًا وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ (رواه احمد)
“Barangsiapa yang memperbanyak istighfar, maka Allah menjadikan baginya kelapangan bagi setiap kebingungan dan jalan keluar bagi setiap persoalan dan memperoleh rizki dari tempat yang tidak terduga-duga”. (HR. Ahmad).[7]
 
2.    Mendatangkan kebaikan yang banyak

مَنِ اسْتَغْفَرَ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ كَتَبَ اللهُ لَهُ بِكُلِّ مُؤْمِنٍ وَمُؤْمِنَتٍ حَسَنَةً (رواه الطبراني)

“Barangsiapa yang memohon ampunan bagi orang Mukmin dan Mukminat, maka Allah tetapkan baginya pada masing-masing orang Mukmin dan Mukminat itu satu kebaikan”. (HR. Thabrani).[8]   

3.    Mendatangkan kegembiraan pada saat melihat buku catatan amal di hadapan Allah karena kebaikan yang banyak yang dihasilkan oleh istighfar 

مَنْ اَحَبَّ اَنْ تَسُرَّهُ صَحِيْفَتَهُ فَالْيُكْثِرْ فِيْهَا مِنَ اْلاِسْتِغْفَارِ (رواه ابو نعيم)

“Barangsiapa yang ingin buku catatan amalnya menggembira-kannya, maka perbanyaklah istighfar”. (HR. Abu Na’im).[9]
 
Selain itu, semakin banyak seseorang beristighfar kepada Allah, maka peluang diampuni segala kesalahan dan dosanya juga akan lebih besar. Karena boleh jadi kita seringkali melakukan pelanggaran namun tidak menyadarinya. Wallahu A’lam. []


[1]    Al Imam Muhammad Bin Ismail As Shan’ani, Subulu As Salam, (Daar Alfikri: 1991) jilid 4 hal. 329.
[2]    Al Imam Abi Zakariya Yahya Bin Syaraf An Nawawi, Riyadhu As Shalihin, (Daar Al Fikr: 1994), hal. 8.
[3]    Abu Abdillah Muhammad Bin Ismail Al Bukhari, Shahih Bukhari, jilid 4 hal. 98.
[4]    Al Imam Abi Zakariya Yahya Bin Syaraf An Nawawi, Riyadhu As Shalihin, (Daar Al Fikr: 1994), hal. 36.
[5]    Al Imam Jalaluddin Abdurrahman Bin Abu Bakar As Suyuthi, Al Jami’u As Shagir, jilid 2 hal. 182.
[6]    Al Imam Abi Zakariya Yahya Bin Syaraf An Nawawi, Riyadhu As Shalihin, (Daar Al Fikr: 1994), hal. 37.
[7]    As Sayyid Ahmad Al Hasyimi, Mukhtaru Al Ahaditsi An Nabawiyah Wa Al Hikami Al Muhammadiyyah, hal. 141.
[8]    Ibid, hal. 140.
[9]    Al Imam Jalaluddin Abdurrahman Bin Abu Bakar As Suyuthi, Al Jami’u As Shagir, jilid 2 hal. 160.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar