ISTIGHFAR
Oleh : Ateng Usep Tirta Kusuma
وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا
أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ
الذُّنُوبَ إِلاَّ اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ
يَعْلَمُونَ (١٣٥)
“Dan (juga) orang-orang yang
apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat
akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang
dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah?. Dan mereka tidak meneruskan
perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui”. (QS. Ali Imran [3]: 135).
Dalam dinamika
kehidupannya manusia tidak akan pernah luput dari kesalahan dan dosa. Ini
adalah fitrah manusia yang memang telah disinyalir oleh Rasulullah Saw dalam
sebuah haditsnya:
كُلُّ بَنِيْ آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ اَلتَّوَّابُوْنَ (رواه الترمذي)
“Setiap
manusia (berpotensi) melakukan kesalahan dan sebaik-baik orang yang bersalah
adalah mereka yang mau bertaubat”. (HR. Tirmidzi).[1]
Banyak orang yang ketika
memaknai istighfar hanya sebatas ucapan mohon ampun kepada Allah dengan mengucapkan
astaghfirullahal ‘azim. Pemahaman seperti ini tidaklah keliru, namun
jika hanya diartikan sebagai ungkapan lisan, maka makna istighfar menjadi
sempit.
Walhasil, istighfar (permohonan
ampun) kepada Allah tidak hanya dapat dilakukan dengan lisan. Banyak sekali
amal perbuatan yang dapat mendatangkan ampunan Allah. Dengan demikian,
istighfar itu dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu istighfar dengan
lisan dan yang kedua adalah istighfar dengan perbuatan. Bahkan
apabila seseorang baru hanya menyesali perbuatan dosa yang telah dilakukannya
dalam hatinya, itu pun termasuk dalam kategori istighfar.
A. Istighfar Dengan Lisan
Dalam sebuah hadits
dikatakan bahwa Rasulullah Saw mengucapkan istighfar_walhasil beliau adalah
maksum (terbebas dari dosa) dan telah mendapat jaminan surga_ setiap hari
sebanyak seratus kali.
يَا اَيُّهَا النَّاسُ تُوْبُوْا اِلَى اللهِ وَاسْتَغْفِرُوْهُ، فَاِنِّيْ
اَتُوْبُ فِى اْليَوْمِ مِئَةَ مَرَّةٍ (رواه مسلم)
“Wahai manusia,
bertaubatlah dan mohonlah ampun kepada Allah, maka sesungguhnya aku setiap hari
memohon ampun kepada Allah sebanyak seratus kali”. (HR. Muslim).[2]
Ada satu ucapan
istighfar yang dinamakan dengan sayyidul istighfar (rajanya
istighfar) yang diajarkan oleh baginda Rasulullah Saw sebagai berikut :
اَللَّهُمَّ اَنْتَ رَبِّيْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اَنْتَ خَلَقْتَنِيْ وَاَنَا
عَبْدُكَ، وَاَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَاسْتَطَعْتُ، اَعُوْذُبِكَ مِنْ
شَرِّ مَا صَنَعْتُ، اَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَاَبُوْءُ بِذَنْبِيْ
فَاغْفِرْلِيْ، فَاِنَّهُ لاَيَغْفِرُ الذُّنُوْبَ اِلاَّ اَنْتَ. (رواه البخاري)
“Ya Allah, Engkaulah Tuhanku, tiada Tuhan melainkan
Engkau dan aku ini hamba Mu, dalam jaminan dan janji kepada Mu yang akan aku penuhi
sekemampuanku, aku berlindung kepada Mu dari kejahatan yang aku perbuat, aku
mengakui segala anugerah yang Engkau berikan kepadaku dan aku (juga) mengakui
seluruh dosa yang aku perbuat, maka ampunilah aku, karena sesungguhya tiada
yang dapat mengampuni dosa kecuali Engkau”. (HR. Bukhari).[3]
Rasulullah
memberikan jaminan bahwa barangsiapa yang membacanya di siang hari dengan penuh
keyakinan lalu dia meninggal sebelum sore hari, maka ia termasuk ahli surga,
dan barangsiapa yang membacanya di waktu malam dengan penuh keyakinan lalu ia
meninggal sebelum pagi hari, maka ia termasuk ahli surga.
B. Istighfar Dengan Perbuatan
Selain dengan ucapan lisan tersebut, tidak sedikit juga amal perbuatan_yang
dipandang remeh_ternyata termasuk dalam kategori istighfar yang dengannya
menjadi sebab pengampunan dosa. Sekecil apapun kebaikan yang dapat kita lakukan
hendaknya jangan dipandang remeh, karena boleh jadi nilainya besar di hadapan
Allah, sebaliknya, betapapun kecilnya dosa yang kita lakukan jangan dipandang
remeh, karena boleh jadi besar di hadapan Allah.
لاَ تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوْفِ شَيْئًا وَلَوْ اَنْ تَلْقَى اَخَاكَ
بِوَجْهٍ طَلِيْقٍ (رواه مسلم)
“Janganlah engkau meremehkan satu kebaikan sekalipun
hanya menemui saudaramu dengan wajah yang berseri”. (HR. Muslim).[4]
Dalam sebuah riwayat
dikatakan bahwa memandang wajah saudara atau sanak famili dengan pandangan
kasih sayang dan wajah yang berseri merupakan sebab diampuninya dosa.
مَنْ نَظَرَ اِلَى اَخِيْهِ نَظْرَةَ وُدٍّ غُفِرَ لَهُ (رواه الحكيم)
“Barangsiapa yang memandang saudaranya dengan
pandangan kasih sayang, niscaya akan diampuni dosanya”. (HR. Hakim).[5]
Dalam sebuah
riwayat juga dikisahkan tentang seseorang yang memberikan minum kepada seekor
anjing yang kehausan di tengah padang pasir. Rasulullah Saw bersabda:
بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِيْ بِطَرِيْقٍ اِشْتَدَّ عَلَيْهِ اْلعَطَشُ فَوَجَدَ
بِئْرًا فَنَزَلَ فِيْهَا فَشَرِبَ ثُمَّ خَرَجَ. فَاِذَا كَلْبٌ يَلْهَثُ يَأْ
كُلُ الثَّرَى مِنَ اْلعَطَشِ. فَقَالَ الرَّجُلُ: لَقَدْ بَلَغَ هَذَاالْكَلْبَ
مِنَ اْلعَطَشِ مِثْلُ الَّذِيْ قَدْ بَلَغَ مِنِّيْ. فَنَزَلَ الْبِئْرَ فَمَلأَ
خُفَّهُ مَاءً ثُمَّ اَمْسَكَهُ بِفِيْهِ حَتَّى رَقِيَ، فَسَقَى الْكَلْبَ،
فَشَكَرَ اللهُ لَهُ فَغَفَرَلَهُ. قَالُوْا: يَارَسُوْلَ اللهِ، وَاِنَّ لَنَا
فِى اْلبَهَائِمِ لاَجْرًا ؟ فَقَالَ: فِيْ كُلِّ كَبِدٍ رَطْبَةٍ اَجْرًا (متفق عليه).
“Ada seorang laki-laki yang sedang melakukan
perjalanan kemudian ia sangat kehausan, lalu ia mendapati sebuah sumur kemudian
ia turun ke dalamnya dan minum air sumur tersebut kamudian ia keluar. Ketika
itu ada seekor anjing yang menjilat-jilat kerikil karena sangat hausnya. Lelaki
itu berkata: “Sungguh anjing itu mengalami kehausan seperti yang telah kualami
tadi”. Lalu ia turun kembali ke sumur itu dan memenuhi sepatunya dengan air kemudian
menggigitnya hingga ia naik ke atas dan memberikan anjing itu minum. Maka Allah
berterima kasih kepadanya dan mengampuninya. Sahabat bertanya: “Wahai
Rasulullah, apakah memberikan bintang itu ada pahalanya bagi kami?”. Rasulullah
Saw bersabda: “Pada setiap yang memiliki jantung yang basah itu ada pahalanya”.
(Muttafaq
‘alaih).[6]
Keutamaan Istighfar
Ada banyak hadits yang
menjelaskan tentang kelebihan dan keutamaan istighfar, antara lain:
1.
Mendatangkan kemudahan
dan rizki dari tempat yang tidak terduga.
مَنْ اَكْثَرَ مِنَ اْلاِسْتِغْفَارِ جَعَلَ اللهُ لَهُ
مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَمِنْ كُلِّ ضِيْقٍ مَخْرَجًا وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ
لاَ يَحْتَسِبُ (رواه احمد)
“Barangsiapa
yang memperbanyak istighfar, maka Allah menjadikan baginya kelapangan bagi
setiap kebingungan dan jalan keluar bagi setiap persoalan dan memperoleh rizki
dari tempat yang tidak terduga-duga”. (HR. Ahmad).[7]
2.
Mendatangkan kebaikan
yang banyak
مَنِ اسْتَغْفَرَ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ كَتَبَ
اللهُ لَهُ بِكُلِّ مُؤْمِنٍ وَمُؤْمِنَتٍ حَسَنَةً (رواه الطبراني)
“Barangsiapa yang
memohon ampunan bagi orang Mukmin dan Mukminat, maka Allah tetapkan baginya
pada masing-masing orang Mukmin dan Mukminat itu satu kebaikan”. (HR. Thabrani).[8]
3.
Mendatangkan kegembiraan
pada saat melihat buku catatan amal di hadapan Allah karena kebaikan yang
banyak yang dihasilkan oleh istighfar
مَنْ اَحَبَّ اَنْ تَسُرَّهُ صَحِيْفَتَهُ فَالْيُكْثِرْ فِيْهَا
مِنَ اْلاِسْتِغْفَارِ (رواه ابو نعيم)
“Barangsiapa
yang ingin buku catatan amalnya menggembira-kannya, maka perbanyaklah
istighfar”. (HR. Abu Na’im).[9]
Selain itu, semakin
banyak seseorang beristighfar kepada Allah, maka peluang diampuni segala
kesalahan dan dosanya juga akan lebih besar. Karena boleh jadi kita seringkali
melakukan pelanggaran namun tidak menyadarinya. Wallahu A’lam. []
[1]
Al
Imam Muhammad Bin Ismail As Shan’ani, Subulu As Salam, (Daar
Alfikri: 1991) jilid 4 hal. 329.
[2]
Al
Imam Abi Zakariya Yahya Bin Syaraf An Nawawi, Riyadhu As Shalihin, (Daar
Al Fikr: 1994), hal. 8.
[3]
Abu
Abdillah Muhammad Bin Ismail Al Bukhari, Shahih Bukhari, jilid 4
hal. 98.
[4]
Al
Imam Abi Zakariya Yahya Bin Syaraf An Nawawi, Riyadhu As Shalihin, (Daar
Al Fikr: 1994), hal. 36.
[5]
Al
Imam Jalaluddin Abdurrahman Bin Abu Bakar As Suyuthi, Al Jami’u As
Shagir, jilid 2 hal. 182.
[6]
Al
Imam Abi Zakariya Yahya Bin Syaraf An Nawawi, Riyadhu As Shalihin, (Daar
Al Fikr: 1994), hal. 37.
[7]
As
Sayyid Ahmad Al Hasyimi, Mukhtaru Al Ahaditsi An Nabawiyah Wa Al Hikami
Al Muhammadiyyah, hal. 141.
[8]
Ibid,
hal. 140.
[9]
Al
Imam Jalaluddin Abdurrahman Bin Abu Bakar As Suyuthi, Al Jami’u As
Shagir, jilid 2 hal. 160.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar