MUHASABAH
Oleh : Ateng Usep Tirta Kusuma
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ
لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (١٨) وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا
اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ (١٩) لاَ يَسْتَوِي أَصْحَابُ النَّارِ
وَأَصْحَابُ الْجَنَّةِ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمُ الْفَائِزُونَ (٢٠)
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah
kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok
(akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (18) Dan
janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah
menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri, mereka Itulah orang-orang yang
fasik (19). Tidaklah sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni surga;
penghuni-penghuni surga itulah orang-orang yang beruntung (20). (QS. Al Hasyr [59]: 18-20).
Adalah merupakan fitrah
manusia selalu mengusahakan yang terbaik bagi diri, keluarga bahkan
lingkungannya. Manusia selalu menginginkan kebaikan pada setiap waktu dalam
kehidupannya. Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan bahkan tahun
demi tahun. Bukan saja kebaikan dalam perkara dunia, kebaikan maupun
kebahagiaan hidup ukhrawi juga merupakan harapan setiap insan, karena kehidupan
ukhrawi itulah yang akan kekal abadi.
وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا
حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (٢٠١)
“Dan
di antara mereka ada orang yang berdoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami
kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa
neraka”. (QS. Al Baqarah [2]: 201).
Orang yang beriman akan
senantiasa berusaha menjadikan kehidupan duniawi yang sementara ini sebagai
ladang bercocok tanam amal shaleh sebagai bekal mengarungi kehidupan ukhrawi
yang kekal abadi. Bagi orang beriman dunia bukanlah tujuan, melainkan sebagai
jalan menuju kehidupan akhirat. Dengan demikian, proses kehidupan duniawi yang
dijalani tidak akan terlepas dari sifat kehati-hatian dan senantiasa muhasabah (introspeksi
diri).
Tahun demi tahun telah
berlalu, yang berarti bahwa usia kita_meskipun secara nominal bertambah_semakin
berkurang. Hal ini juga berarti bahwa kesempatan hidup di dunia semakin
berkurang dan semakin dekatnya dengan kehidupan akhirat. Allah telah memberikan
petunjuk kepada manusia agar mereka menghargai waktu yang sejatinya selalu
berjalan maju dan tidak akan kembali mundur ke belakang. Itu sebabnya Allah Swt
berfirman:
وَالْعَصْرِ (١) إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (٢) إِلاَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ
وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (٣)
Demi masa (1).
Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian (2). Kecuali orang-orang
yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati
kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran (3) “.
Seorang penyair berkata
:
لَنْ تَرْجِعَ اْلاَياَّمُ الَّتِيْ مَضَتْ
“Waktu yang telah
berlalu tidak akan pernah kembali lagi”.
Kita boleh saja
menyambut kedatangan tahun baru dengan penuh kegembiraan_kegembiraan dalam
arti bersyukur karena masih diberikan kesempatan untuk memperbaiki diri dan
menambah catatan amal ibadah di sisi Allah_ namun satu hal yang perlu kita
cermati adalah jangan sampai kita lalai dan tertipu sehingga tidak lagi
menghargai waktu dan mengabaikan nasib pada kehidupan akhirat. Rasulullah Saw
bersabda:
نِعْمَتَانِ مَغْبُوْنٌ فِيْهِمَا كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ: اَلصِّحَّةُ،
وَالْفَرَاغُ (وراه البخاري)
“Ada
dua kenikmatan yang membuat banyak manusia tertipu karena keduanya yaitu,
kesehatan dan waktu luang”. (HR. Bukhari).[1]
Tahun demi tahun telah berlalu, yang berarti buku catatan amal kita selama satu tahun penuh telah
ditutup dan lembaran baru dimulai. Perlu kita mengintrospeksi dan merenung
sejenak, sudah seberapa banyak amal ibadah yang kita lakukan, atau
jangan-jangan lebih banyak keburukan dari pada kebaikan. Dan kalaupun ternyata_menurut
kita_ lebih bayak kebaikan, apakah benar kebaikan yang telah kita
laksanakan sudah bermotifkan keikhlasan. Banyak sekali pertanyaan yang harus
kita berikan jawaban. Ada baiknya kita
merenungkan ungkapan syair berikut[2]:
يَا مَنْ بِدُنْيَاهُ اشْتَغَلْ * قَدْ غَرَّهُ طُوْلُ اْلاَمَلْ
“Wahai orang yang selalu sibuk dengan dunia *
Sungguh, panjangnya angan-angan telah menipunya”.
اَوْلَمْ يَزَلْ فِيْ غَفْلَةٍ *
حَتَّى دَنَا مِنْهُ اْلاَجَلْ
“Atau ia selalu berada dalam kelalaian *
Sehingga ajal datang menghampiri”.
اَلْمَوْتُ يَأْتِيْ بَغْتَةً *
وَالْقَبْرُصُنْدُوْقُ الْعَمَلْ
“Kematian itu akan datang secara tiba-tiba *
Sedangkan liang kubur adalah tempatnya amal”.
Mengingat kehidupan
akhirat tidak hanya dilakukan saat sedang shalat atau berdzikir maupun pada
saat melakukan ritual ibadah lainnya, melainkan harus dilakukan setiap waktu.
Namun demikian, hal ini
bukan berarti orang yang selalu mengingat kehidupan akhirat serta merta lemah
dalam masalah duniawi. Allah Swt berfirman:
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الآخِرَةَ وَلا
تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ
وَلاَ تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الأرْضِ إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
(٧٧)
“Dan carilah pada apa
yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan
janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat
baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan
janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak
menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”. (QS. Al Qashash [28]: 77).
Semua manusia
mengharapkan peningkatan kehidupan, baik dari segi kehidupan duniawi maupun
dari segi kehidupan ukhrawi. Itu sebabnya agama menganjurkan untuk selalu
mengintrospeksi diri agar hari ini menjadi lebih baik dari hari kemarin.
Dengan adanya
introspeksi diri (muhasabah), seseorang akan mengetahui dan menyadari segala
kekurangannya kemudian selanjutnya ia akan berusaha memperbaiki dan menambah
kualitas kebaikannya.
Apapun yang kita
usahakan, semuanya akan bermuara pada satu titik yakni kehidupan akhirat di
mana akan dipertanggung jawabkan sekecil-kecil amal kebaikan, pun sekecil-kecil
amal kejahatan.
وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ
تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لا يُظْلَمُونَ (٢٨١)
“Dan peliharalah dirimu
dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan
kepada Allah. kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap
apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan)”. (QS. Al Baqarah [2]: 281).
Muhasabah dan selalu mempersiapkan
kehidupan akhirat merupakan indikasi ketakwaan seseorang kepada Allah Swt,
sebagaimana Ulama menjelaskan tentang salah satu definisi dari takwa yaitu:
حُبُّ الْخَلِيْلِ وَاِتْبَاعُ مَا فِى التَّنْـزِيْلِ
وَاْلاِسْتِعْدَادُ لِيَوْمِ الرَّحِيْلِ
.
.
“Mencintai
Allah, mengikuti Al Qur’an dan mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat”.
Ketika kehidupan
senantiasa dihiasi dengan muhasabah, niscaya akan meningkatkan etos kerja dan
kualitas pekerjaan itu sendiri, baik yang bersifat duniawi maupun ukhrawi. Hal
ini disebabkan karena orang yang selalu mengintrospeksi diri akan senantiasa
merasakan kelemahan dan kekurangan dirinya, dan kalaupun ada pekerjaannya atau
ibadahnya yang telah dianggap baik, ia akan selalu berusaha untuk meningkatkan
kualitas kebaikannya tersebut. Wajar ketika Rasulullah memberikan gelar sebagai
“kayyis” (orang yang cerdas) bagi orang yang senantiasa mengintrospeksi
diri dan mempersiapakan bekal untuk menghadapi kehidupan akhirat.
اَلْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ
الْمَوْتِ. وَاْلعَاجِزُ مَنْ اَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَ تَمَنَّى عَلَى اللهِ
اْلاَمَانِيَّ. (رواه الترمذي)
.
.
“Orang
yang cerdas adalah orang yang dapat menundukkan hawa nafsunya dan mempersiapkan
amal shaleh untuk bekal setelah mati. Sedangkan orang yang lemah adalah orang
yang selalu mengikuti hawa nafsunya sedangkan ia menaruh harapan kepada Allah”.
(HR. At Tirmidzi).[3]
Sepanjang hidup manusia
dituntut untuk selalu mengadakan perubahan kepada arah kebaikan. Bila apa yang
dicapainya sudah baik, maka harus menempuh cara agar dapat mencapai yang lebih
baik.
Wallahu A’lam []
Tidak ada komentar:
Posting Komentar