Sabtu, 25 Oktober 2014

MUHASABAH
Oleh : Ateng Usep Tirta Kusuma
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (١٨) وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ (١٩) لاَ يَسْتَوِي أَصْحَابُ النَّارِ وَأَصْحَابُ الْجَنَّةِ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمُ الْفَائِزُونَ (٢٠)
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (18) Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri, mereka Itulah orang-orang yang fasik (19). Tidaklah sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni surga; penghuni-penghuni surga itulah orang-orang yang beruntung (20). (QS. Al Hasyr [59]: 18-20).

Adalah merupakan fitrah manusia selalu mengusahakan yang terbaik bagi diri, keluarga bahkan lingkungannya. Manusia selalu menginginkan kebaikan pada setiap waktu dalam kehidupannya. Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan bahkan tahun demi tahun. Bukan saja kebaikan dalam perkara dunia, kebaikan maupun kebahagiaan hidup ukhrawi juga merupakan harapan setiap insan, karena kehidupan ukhrawi itulah yang akan kekal abadi.
وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (٢٠١)

“Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”. (QS. Al Baqarah [2]: 201).
Orang yang beriman akan senantiasa berusaha menjadikan kehidupan duniawi yang sementara ini sebagai ladang bercocok tanam amal shaleh sebagai bekal mengarungi kehidupan ukhrawi yang kekal abadi. Bagi orang beriman dunia bukanlah tujuan, melainkan sebagai jalan menuju kehidupan akhirat. Dengan demikian, proses kehidupan duniawi yang dijalani tidak akan terlepas dari sifat kehati-hatian dan senantiasa muhasabah (introspeksi diri).
Tahun demi tahun telah berlalu, yang berarti bahwa usia kita_meskipun secara nominal bertambah_semakin berkurang. Hal ini juga berarti bahwa kesempatan hidup di dunia semakin berkurang dan semakin dekatnya dengan kehidupan akhirat. Allah telah memberikan petunjuk kepada manusia agar mereka menghargai waktu yang sejatinya selalu berjalan maju dan tidak akan kembali mundur ke belakang. Itu sebabnya Allah Swt berfirman:
وَالْعَصْرِ (١) إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (٢) إِلاَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (٣)
Demi masa (1). Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian (2). Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran (3) “.
Seorang penyair berkata :
لَنْ تَرْجِعَ اْلاَياَّمُ الَّتِيْ مَضَتْ
“Waktu yang telah berlalu tidak akan pernah kembali lagi”.
Kita boleh saja menyambut kedatangan tahun baru dengan penuh kegembiraan_kegembiraan dalam arti bersyukur karena masih diberikan kesempatan untuk memperbaiki diri dan menambah catatan amal ibadah di sisi Allah_ namun satu hal yang perlu kita cermati adalah jangan sampai kita lalai dan tertipu sehingga tidak lagi menghargai waktu dan mengabaikan nasib pada kehidupan akhirat. Rasulullah Saw bersabda:
نِعْمَتَانِ مَغْبُوْنٌ فِيْهِمَا كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ: اَلصِّحَّةُ، وَالْفَرَاغُ (وراه البخاري)
“Ada dua kenikmatan yang membuat banyak manusia tertipu karena keduanya yaitu, kesehatan dan waktu luang”. (HR. Bukhari).[1]
Tahun demi tahun telah berlalu, yang berarti buku catatan amal kita selama satu tahun penuh telah ditutup dan lembaran baru dimulai. Perlu kita mengintrospeksi dan merenung sejenak, sudah seberapa banyak amal ibadah yang kita lakukan, atau jangan-jangan lebih banyak keburukan dari pada kebaikan. Dan kalaupun ternyata_menurut kita_ lebih bayak kebaikan, apakah benar kebaikan yang telah kita laksanakan sudah bermotifkan keikhlasan. Banyak sekali pertanyaan yang harus kita berikan jawaban. Ada baiknya kita merenungkan ungkapan syair berikut[2]:
يَا مَنْ بِدُنْيَاهُ اشْتَغَلْ *  قَدْ غَرَّهُ طُوْلُ اْلاَمَلْ

“Wahai orang yang selalu sibuk dengan dunia *
Sungguh, panjangnya angan-angan telah menipunya”.
اَوْلَمْ يَزَلْ فِيْ غَفْلَةٍ  *  حَتَّى دَنَا مِنْهُ اْلاَجَلْ

“Atau ia selalu berada dalam kelalaian *
Sehingga ajal datang menghampiri”.
 اَلْمَوْتُ يَأْتِيْ بَغْتَةً  *  وَالْقَبْرُصُنْدُوْقُ الْعَمَلْ

“Kematian itu akan datang secara tiba-tiba *
Sedangkan liang kubur adalah tempatnya amal”.
Mengingat kehidupan akhirat tidak hanya dilakukan saat sedang shalat atau berdzikir maupun pada saat melakukan ritual ibadah lainnya, melainkan harus dilakukan setiap waktu.
Namun demikian, hal ini bukan berarti orang yang selalu mengingat kehidupan akhirat serta merta lemah dalam masalah duniawi. Allah Swt berfirman:
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الآخِرَةَ وَلا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلاَ تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الأرْضِ إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ (٧٧)

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”. (QS. Al Qashash [28]: 77).
Semua manusia mengharapkan peningkatan kehidupan, baik dari segi kehidupan duniawi maupun dari segi kehidupan ukhrawi. Itu sebabnya agama menganjurkan untuk selalu mengintrospeksi diri agar hari ini menjadi lebih baik dari hari kemarin. 
Dengan adanya introspeksi diri (muhasabah), seseorang akan mengetahui dan menyadari segala kekurangannya kemudian selanjutnya ia akan berusaha memperbaiki dan menambah kualitas kebaikannya.
Apapun yang kita usahakan, semuanya akan bermuara pada satu titik yakni kehidupan akhirat di mana akan dipertanggung jawabkan sekecil-kecil amal kebaikan, pun sekecil-kecil amal kejahatan. 
وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لا يُظْلَمُونَ (٢٨١)
 
“Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan)”. (QS. Al Baqarah [2]: 281).
Muhasabah dan selalu mempersiapkan kehidupan akhirat merupakan indikasi ketakwaan seseorang kepada Allah Swt, sebagaimana Ulama menjelaskan tentang salah satu definisi dari takwa yaitu:
حُبُّ الْخَلِيْلِ وَاِتْبَاعُ مَا فِى التَّنْـزِيْلِ وَاْلاِسْتِعْدَادُ لِيَوْمِ الرَّحِيْلِ 
.
“Mencintai Allah, mengikuti Al Qur’an dan mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat”.
Ketika kehidupan senantiasa dihiasi dengan muhasabah, niscaya akan meningkatkan etos kerja dan kualitas pekerjaan itu sendiri, baik yang bersifat duniawi maupun ukhrawi. Hal ini disebabkan karena orang yang selalu mengintrospeksi diri akan senantiasa merasakan kelemahan dan kekurangan dirinya, dan kalaupun ada pekerjaannya atau ibadahnya yang telah dianggap baik, ia akan selalu berusaha untuk meningkatkan kualitas kebaikannya tersebut. Wajar ketika Rasulullah memberikan gelar sebagai “kayyis” (orang yang cerdas) bagi orang yang senantiasa mengintrospeksi diri dan mempersiapakan bekal untuk menghadapi kehidupan akhirat.
اَلْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ. وَاْلعَاجِزُ مَنْ اَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَ تَمَنَّى عَلَى اللهِ اْلاَمَانِيَّ. (رواه الترمذي)
.
“Orang yang cerdas adalah orang yang dapat menundukkan hawa nafsunya dan mempersiapkan amal shaleh untuk bekal setelah mati. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang selalu mengikuti hawa nafsunya sedangkan ia menaruh harapan kepada Allah”. (HR. At Tirmidzi).[3]
 
Sepanjang hidup manusia dituntut untuk selalu mengadakan perubahan kepada arah kebaikan. Bila apa yang dicapainya sudah baik, maka harus menempuh cara agar dapat mencapai yang lebih baik.
Wallahu A’lam []


[1]    Al Imam Abi Zakariya Yahya Bin Syaraf An Nawawi, Riyadhu As Shalihin, (Daar Al Fikr: 1994), hal. 31.
[2]    Syeikh Muhammad Nawawi Bin Umar Al Jawi, Nashaihu Al ‘Ibad, hal. 7.
[3]    As Sayyid Ahmad Al Hasyimi, Mukhtaru Al Ahaditsi An Nabawiyah Wa Al Hikami Al Muhammadiyyah, hal. 114.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar